Texaspoker
Wigobet
Bandar Taruhan Online Terbesar
Iklan Forum Bokep | Forum Dewasa Agen Judi Bola Online Terpercaya

Afapoker Rgobet

cyber303.com Iklan

Iklan Iklan Iklan

Cerita Panas Gigolo yang Mendapatkan Rumah dan Nenek

Discussion in 'Cerita Dewasa' started by mayaak, Jul 3, 2018.

  1. mayaak

    mayaak Active Member

    [​IMG]

    Cerita Panas Gigolo yang Mendapatkan Rumah dan Nenek – DALAM kamar sebuah hotel melati di kawasan Surabaya Selatan, dua pemuda sedang asyik bermain catur. Seorang lainnya suntuk mengisi TTS (teka-teki silang). Tak berapa lama, pintu kamar mereka dibuka dari luar. Seorang pria berkumis dan bertubuh kekar datang dan menyapa mereka.
    “Lho, para TKI ini ngapain masih di penampungan? Memangnya mau berangkat ke mana?” ujar pria berkumis itu kepada tiga pemuda ganteng yang sedang asyik mengisi waktu di kamar hotel tersebut.

    Seperti kor, ketiga pemuda tersebut menjawab serentak, “Mau ke Malaysia, Bos. Tapi, tak dijemput-jemput sama tekong.”
    Selanjutnya, tawa mereka berderai bersamaan, tak terkecuali pria yang dipanggil bos itu.

    Tentu, ketiga pemuda tersebut bukan TKI (tenaga kerja Indonesia) beneran. Mereka adalah para gigolo (pelacur laki-laki) yang sedang menanti pelanggan. Di komunitasnya, mereka menyebut diri sebagai “kucing” yang menunggu mangsa. Sudah sekitar lima tahun ini para “kucing” itu tinggal di kamar hotel tersebut. Lima tahun?
    Ya. Itulah pengakuan Rudi (bukan nama sebenarnya, Red), bos para “kucing” tersebut, ketika ditemui Jawa Pos pekan lalu. “Benar, sudah sekitar lima tahun ini saya sewa dua kamar di hotel ini untuk operasional. Sekarang tarifnya Rp 80 ribu per kamar semalam,” jelas muncikari sembilan gigolo itu.

    Selain untuk tempat berteduh para gigolo -kebetulan seluruhnya berasal dari luar kota-, kamar hotel tersebut sekaligus menjadi tempat “eksekusi”. Khususnya bagi pelanggan yang memilih kencan dalam kamar hotel itu. “Kalau tamu tidak mau mem-booking ke luar, ya pakai kamar ini untuk kencan,” ungkap bapak tiga anak tersebut.
    “Lebih praktis daripada harus mengontrak rumah. Lagi pula, pelanggan lama tahunya ya di sini. Ngapain harus pindah,” ujarnya ketika ditanya alasan mengapa tidak mengontrak rumah yang notabene bisa lebih murah dibandingkan sewa kamar hotel.
    Saat order sepi, para gigolo banyak mengisi waktu luang dalam kamar sambil bersenda-gurau. Mereka mengibaratkan situasi seperti itu bak TKI yang sedang menunggu diberangkatkan ke luar negeri. Tak heran, mereka langsung tertawa terbahak-bahak ketika bos Rudi menyapa dengan anekdot TKI.
    Jumlah pelacur laki-laki di Surabaya tak sebanyak dibandingkan “populasi” mereka di Jakarta. Berdasar investigasi Jawa Pos, di kota ini, ada enam kelompok gigolo. Masing-masing kelompok beranggota 4-12 orang. Selain di hotel, ada yang mengontrak rumah atau “menebas” seluruh kamar kos-kosan untuk pangkalan mereka. Bahkan, ada dua kelompok yang tak mempunyai home base. “Kami hanya menerima panggilan ke luar. Kami tidak menyediakan tempat khusus,” tegas Andri (juga nama samaran, Red) yang lebih suka disebut koordinator germo itu.
    Selain beroperasi secara berkelompok, banyak “kucing” yang “berkeliaran” di jalan-jalan. Di kalangan komunitas gigolo, mereka biasa disebut “kucing garong”. Paling banyak di Bantaran Kalimas, Jalan Pemuda. Di lokasi yang sering disebut sebagai “Pattaya” itu, ada belasan pria penjaja cinta yang mangkal.
    Tarif para gigolo jalanan tersebut tak berbeda jauh dari yang mangkal di kamar hotel melati atau kos-kosan. Untuk pria jasa layanan quickie express yang mangkal di Pattaya, tarif short time paling mahal Rp 100 ribu.
    “Bedanya, anak buah saya lebih bersih dan kondisi fisiknya terjaga. Karena itu, biasanya para tamu pun tidak enggan memberi tip yang tidak sedikit. Pernah anak buah saya mendapat tip Rp 5 juta,” ungkap Rudi.
    Sebagai bos, untuk setiap transaksi, dirinya mendapat “royalti” Rp 50 ribu. “Meski anak buah saya mendapat Rp 5 juta, setoran ke saya tetap Rp 50 ribu. Itu rezeki mereka. Mau dimakan sendiri, silakan. Mau dibagi-bagi, ya monggo,” kata pria yang telah menekuni dunia prostitusi tersebut sejak enam tahun lalu itu.
    Bagaimana tarif kelompok lain? “Ya, kalau tarif, umumnya tidak banyak berbeda. Yang beda pada tip yang diberikan pelanggan. Jarang ada yang memberi pas Rp 150 ribu,” ujar Adi (nama samaran), koordinator kelompok gigolo yang mangkal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Surabaya Selatan.

    Videonya

    Film Bokep

    Forum Bokep

    Forum Bola

    Sumber
     

Share This Page